Saturday, December 18, 2010

Hard Cluster Perlu Inovasi Baru

Posting ini merupakan kelanjutan dari Hard Cluster Top Up Pulsa, Silakan dibaca dahulu.
Hampir rata-rata tanggapan para pelaku server pulsa dan counter pulsa bernada skeptis, bahkan ada yang frontal. Satu tanggapan  mengenai penggantian format isi ulang dengan (kurang lebih) kode.hp.lokasi.pin adalah tanggapan paling cemerlang.
Server pulsa sudah berjalan mulai awal tahun 2000-an bahkan mungkin sudah ada yang jauh sebelumnya; disetiap perubahan kebijakan operator yang terjadi selama ini, mereka masih survive tanpa harus teriak-teriak kepada si pembuat kebijakan.
Mulai sistem regionalisasi Mkios yang berujung banyak chip yang tersuspend sampai stok xl yang dibatasi dan kemudian dikendorkan lagi dan dibatasi lagi; bukankah tetap exist?
Penurunan omzet adalah konsekwensi logis, tapi berinovasi untuk menaikkan omzet lagi adalah suatu tantangan yang sudah jadi lauk pauk pelaku server selama ini.

Tanggapan bermusuhan atau memusuhi adalah kontra-produktif, bahkan cenderung membunuh daya kreatifitas. Aspindo sebagai wadah para anggota server atau paling tidak beberapa pentolan-nya tentu saja sudah berusaha untuk tidak ada perubahan pada sistem distribusi, namun jika terdapat beda kepentingan tentu saja bagaikan "macan mengaum, kafilah tetap berlalu". Dan alhamdulillah, taring macan ini cukup menghambat laju kafilah, namun tetap saja kafilah akan berlalu meski terseok-seok.
Server Pulsa bukanlah bagian dari sistem distribusi, dulu dan kini, meski dahulu pernah menjadi primadona para dealer untuk menggenjot penjualan yang tentu saja menguntungkan para konsumen.
Tentu saja kita masih ingat ketika awal-awal pemberlakuan sistem regionalisasi mkios, yang berujung pada kekacauan distribusi pulsa dan  muaranya adalah ketidakpuasan konsumen yang tergambar pada tulisan-tulisan mereka di surat pembaca beberapa koran, karena counter pulsa menolak untuk mengisi ulang. Meski kemudian dikendorkan lagi, tampaknya operator tersebut kini tetap akan melanjutkan program regionalisasinya dengan pembenahan pada konsep penerapan yang diharapkan tidak ada penolakan dari counter untuk mengisi ulang, meski cukup membuat gejolak pada para pelaku server. Sekali lagi, server pulsa tidak diperhitungkan.
Satu-satunya strategi server pulsa (yang saya ingat) yang mampu mengendorkan kebijakan operator tentang regionalisasi atau clusterisasi adalah TRANSAKSI GAGAL dengan beberapa variasi sebab, misal karena memboikot atau karena tidak ada stok, atau karena pelaku server mampu mengacaukan HLR dengan cara mengekspor dan impor kartu perdana segel maupun aktif dan yang lebih ekstrim lagi mengganti warna daerah (baca mempromosikan Indosat yang tidak menerapkan regionalisasi).
Kini dengan penyempurnaan sistem regionalisasi menjadi sistem cluster, maka perlu strategi baru baik soft strategy maupun hard strategy untuk tetap mempertahankan identitas server pulsa. Soft strategy lebih ditekankan pada sisi teknologi, sedangkan hard strategy lebih kepada shock therapy dalam jangka waktu tertentu sampai menuju arah equilibrium (perimbangan) baru.
Dengan demikian diharapkan tidak ada yang terluka, emosi, atau malah menyalahkan situasi. Bukankah sebagai enterprenuer harus bersikap gentle? innovate or die!