Saturday, December 4, 2010

Dinamika Top Up Pulsa

Sepintas tampak counter pengisian pulsa sebagai usaha yang mudah dan enteng, dan sepertinya demikian; hanya saja jika ditilik tentang proses dibalik kesederhanaan sistem distribusi ini, terdapat suatu hubungan yang ruwet sekaligus penuh ketegangan.
Suatu masa pengisian pulsa begitu mudah dan cepat tanpa kesulitan tapi di waktu lain prosesnya menjadi lama dan terkadang gagal. Situasi ini diperparah dengan perilaku konsumen yang 'tidak mau tahu'.
Bagaimana situasinya dengan penyedia layanan pengisian pulsa? atau dalam istilah umum dikenal sebagai Server Pulsa Elektrik All Operator?, jawabannya sederhana. lebih PARAH, kalau tidak bisa dikatakan berdarah-darah. Penuh dengan trik dan strategi, namun demikian situasi ini tidak menghalangi sebagian orang untuk memulai bisnis ini ditengah-tengah kekacauan, dengan segudang pengharapan mulai dari anggapan sebagai bisnis yang sangat menggiurkan sampai dengan tekad baja ingin membuat transaksi lebih cepat.
Tidak salah memang, namun jika menilik para pemilik server yang besar-besar dan lama, malah mereka berlomba-lomba untuk 'mewakilkan' bisnis mereka ini pada anak buah dan lebih melirik bisnis lain. Hmmm .. sungguh ironi.
Bukan karena teknologi server yang kurang canggih ataupun peralatannya, melainkan karena ketersediaan stok beserta aturan-aturan yang aneh-aneh yang mengikutinya. Sepintas tampak ada ketidaksesuaian antara suply dan demand, tapi disisi lain ada tekanan-tekanan terhadap pasar agar menyesuaikan dengan alokasi sales strategy nya operator telekomunikasi.
Terjepit? sudah tentu. Hanya sayang sekali, sebagian dari server tersebut belum memiliki jalan keluar (malah terkadang menjadi korban dari sistem, karena tidak dianggap sebagai salah satu jaringan distribusi) dan sebagian lagi mengikuti arah angin yang mungkin saja tidak terlalu penting untuk membaca prospek usaha.
Maka disini diperlukan sikap sebagai seorang usahawan, bukan melawan arus melainkan mengikuti irama keseimbangan. Karena berjualan All Operator, mestinya bersikap equivalent dan bahkan kalau perlu berusaha sekuat mungkin untuk menciptakan perimbangan pasar dan itu dilakukan secara terus menerus untuk memperteguh posisi sebagai All Operator sekaligus untuk menyelamatkan investasi. Bukankah konyol jika menaruh telur di satu keranjang? atau memberikan prioritas pada suatu keranjang tanpa jaminan? dengan mengabaikan keranjang yang lain?.